Berawal dari selembar kertas dan sebuah pena, kumulai mengeja kata untuk gambarkan suasana jiwa. Kutuangkan berjuta makna yang terekam dalam jajaran peristiwa. Terpancar dalam goresan tinta yang tak pernah terbaca oleh ribuan pasang mata, hanya tersimpan di dalam ruang rasa. Rasa tak percaya ketika yang lain tak mau menerima. Namun, tiada lelah kuteruskan semangat ini, semangat untuk terus belajar menulis.
Ini bukan kisah anak sekolah Taman Kanak-kanak yang sedang belajar menulis abjad. Ini kisahku yang tak lagi kanak-kanak namun masih mencari ruang untuk terus belajar menulis.
Selain anugerah yang kuterima sebagai penikmat karya tulis, peran orang sekeliling dan media baca yang pernah menghampiri juga memiliki peran penting dalam proses tersebut. Di kamar, di kelas, di rumah teman, saat membaca majalah, tabloid dan koran ataupun di jalanan yang terpampang papan bertulis.
Teringat masa sekolah. Saat menerima tugas dari guru bahasa untuk menulis cerita, kuhabiskan waktu lebih lama dari siswa yang lainnya. Seolah sedang bercengkrama dengan tiap ukiran kata pada lembar tugas guru agar bisa disaksikan berjuta pasang mata. Walau hasil dari perjuangan itu berakhir dengan nilai yang kurang memuaskan. Namun semua tetap kunikmati.
Koreksi yang membekas dengan coretan atau cat koreksi berwarna putih, bahkan berakhir dengan gumpalan-gumpalan kertas yang kuremas menghiasi kegiatan itu. Dengan penuh semangat kucoba lagi berulang kali untuk terus belajar menulis.
Jasa penyewaan mesin ketik juga menjadi tempat tujuan perjalanan belajar menulis, ketika ada syarat yang harus menggunakan media itu. Fasilitas pengiriman naskah melalui paket pos adalah satu-satunya layanan yang bisa kunikmati untuk mengantarkannya. Semua tetap dalam satu koridor yang sama yaitu untuk belajar menulis.
Hingga akhirnya...
Setelah melalui beberapa masa aku dipertemukan dengan media lain. Media yang lebih canggih dari kecanggihan yang sudah kukenal sebelumnya. Komputer telah memperkenalkanku dengan internet. Media ajaib yang luar biasa manfaatnya. Kini, bersama internet kurasakan perubahan yang luar biasa. Jalur yang kulalui untuk melangkahkan tulisan semakin dipermudah. Beragam wadah kreatif siap menampung karya belajar menulisku yang masih terus perlu bimbingan. Semangat untuk terus belajar menulis semakin terbentang luas.
Sekarang, saatnya bagiku untuk lebih dalam lagi menjelajahi dunia belajar menulis. Media online telah mengembangkan sayap hingga di ujung jari dan nafasku melalui layar monitor yang berpendar memberi harapan baru bagiku.
Sekolah Menulis Online telah membawa angin segar dan memberi harapan yang semakin seru.




ya...selamat menulis sob...trus semangat...
Owh ini, iya Anaz juga mau ikutan kok :) Insya Allah bentar lagi Anaz tulis. Bukannya suruh nulis di FB juga? FBnya Mas Imam apa?
Sejauh mana kita belajar menulis, kadang ia tak seberapa diperlukan. Tapi sejauh mana kita menulis adalah sangat diutamakan. Wallahua'lam :)
Terus semangat dan tetaplah menulis.
Dengannya kita kan peroleh banyak manfaat, jika mau menuliskan hal-hal yang baik dan bermanfaat.
Apapun itu, memang ada ilmunya, termasuk dalam tulis menulis...
Bisa formal, bisa pula non formal...
Selamat menulis ya Mas Imam...
Salam!!!
salam kenal...
salam kenal... :)
saia selalu ingin belajar menulis..tp sayangnya tidak pernah benar2 bisa menyelesaikannya.. selalu berakhir ditengah.. huft...
Mari tetap semangat untuk terus belajar menulis.
Salam kenal...
Orang belum dikatakan berhasil belajar sebelum orang tersebut mampu menulis apa yang dia telah pelajari.
Semoga Beasiswa SMO 2010-nya bener akan kedapet.
belajar menulis dan menulis untuk belajar...
Terimakasih do'a-nya.
Belajar Menulis? ada ga ya belajar membaca? cz stiap bacaan dengan dibaca akan smakin hidup ruh bacaan tersebut. Bahkan tak sdikit yg mampu hidup stelah mati hanya dengan 'sekedar' membaca. Pun tak sdikit orang yg mampu menularkan smangat hanya dengan 'sekedar' membaca. Bukankah kita pertama kali disuruh membaca (bukan menulis,,:))...Maka selamat membaca dengan disertai tadabbur, cz ruh dari membaca adalah tadabbur.....dan membaca tak slalu dg mata dan tak melulu hanya ber obyek kan tulisan...
Belajar menulis diwali dari belajar membaca. Terimakasih sohibul kariib...